Hujan di luar telah berhenti, tapi jejaknya masih membekas—seperti napas lembap yang menempel di kaca jendela kafe yang berembun. Aku menyendiri di sudut, dagu bertumpu pada telapak tangan yang dingin. Udara di sini berat, penuh aroma biji kopi gosong dan parfum mahal para pekerja kantoran yang mencoba melupakan waktu. Denting sendok mengaduk cangkir senyaring lonceng kecil yang perlahan menidurkan kewarasan.
Lalu, atmosfer ruangan bergeser. Ia ...