Asap tipis mengepul dari ketel kecil di sudut angkringan. Malam di perempatan itu tidak pernah benar-benar sepi—motor lewat satu per satu, lampu sein berkedip, dan speaker kecil memutar lagu lawas yang suaranya serak dimakan usia. Kursi kayu berderit setiap kali seseorang duduk, seolah ikut mengeluh bersama malam.
“Teh anget satu, Mas,” kataku.
Penjualnya mengangguk. Gerakannya rapi, tapi tampak hati-hati, seperti orang yang tidak ingin melak...