Sayur Tanpa Garam

Oleh: Linda Er

Aku selalu mencintainya—bukan setengah, bukan juga sekadar kebiasaan. Aku mencintainya dengan cara paling sunyi: menunggu, memberi, dan berharap tanpa pernah benar-benar ditanya apa kabarku. Aku menyayanginya sepenuh hati, meski sering kali hatiku sendiri tak sempat kusentuh.

Akulah yang selalu menghubungi lebih dulu. Menyusun kalimat dengan hati-hati, lalu menatap layar terlalu lama, menunggu centang biru yang tak kunjung berubah menjadi balasa...

Baca selengkapnya →