Satu Butir Telur dari Ibu

Oleh: Desto Prastowo

Ibu selalu bersemayam dalam ingatan, sampai kapan pun.

Bukan sekadar bayangan samar, melainkan sebagai kehadiran yang utuh—seperti uap nasi hangat di pagi hari, atau suara sendok beradu dengan piring seng yang masih terdengar bahkan ketika dapur itu sudah lama sunyi.

Ada suatu masa dalam hidup ketika aku yakin: aku tidak akan mampu hidup tanpa beliau. Keyakinan itu tidak lahir dari ketergantungan yang manja, melainkan dari kesadaran sederhana bah...

Baca selengkapnya →