Setiap hari Senin, selama tiga minggu berturut-turut, aku datang ke rumah sakit.
Bukan sebagai pasien. Bukan aku yang duduk di kursi roda itu, melainkan Ayah—suami dari adik Mamaku, sekaligus sosok yang, dalam relasi batin, kuanggap sebagai ayah kandung.
Secara silsilah, aku keponakan. Tapi dalam kenyataan hidup, aku adalah anak yang berdiri di sampingnya, menjadi penyangga bagi Ibuku yang merawatnya seorang diri.
Ibu berangkat dari kampung menuju...