“Kenapa? Putus lagi?”
Gibran cuma mengangguk. Lesu. Seperti orang kehabisan tenaga.
Padahal kalau dihitung-hitung, ini pacarnya yang ke-enam belas. Tapi tetap saja, putus selalu menyisakan rasa perih.
“Playboy cap kelinci kok sedih!”
Gibran tak menanggapi. Ia hanya menatap Rain dengan mata jutek.
Mereka berdua memang aneh. Pacaran tidak, dekat iya, dibilang teman juga bukan.
Teman, katanya. Cinta, rasanya.
“Udah ah,” Rain menyenggol bahu Gib...