Nak,
ayah tahu kamu membaca ini sendirian.
Di kamar sempit yang kau sebut “tempat tinggal”, bukan rumah.
Di kota yang lampunya terang, tapi hatimu sering gelap.
Kamu berangkat dari kampung dengan dada membusung.
Katamu: “Aku bisa.”
Katamu: “Aku kuat.”
Katamu: “Aku nggak mau hidup biasa-biasa.”
Ayah mengangguk.
Tapi setelah kamu pergi, ayah duduk lama di teras.
Dan ayah tahu, satu hal tertinggal:
kamu lupa membawa Allah di awal langkahmu.
Nak..