Aku hidup seperti orang-orang pada umumnya. Bangun pagi, makan seadanya, menunaikan doa-doa pendek, lalu menyeruput minuman favoritku seperti kebiasan-kebiasanku sebelumnya. Tak ada yang benar-benar berubah, kataku pada diri sendiri—kecuali satu hal: sunyi kini tinggal lebih lama di ruang-ruang yang dulu kita isi bersama.
“Kamu tuh aneh,” katamu dulu sambil tertawa.
“Kenapa?”
“Minumannya nggak pernah ganti.”
Aku mengangkat bahu. “Kal...