Tampak jelas di mataku wajahnya yang terkejut saat pengakuan itu lolos dari bibirku—kata yang bahkan tak sempat kupikirkan matang-matang. Seolah ada sesuatu di dadaku yang lebih dulu lelah menahan diam.
Aku tak menyangka kejujuran bisa terdengar seperti kesalahan.
Raut wajahnya yang semula hidup perlahan mengeras, menjadi datar, asing. Tak ada amarah, tak ada penolakan yang jelas. Justru itu yang paling menakutkan. Kekosongan di wajahnya terasa s...