Benang Merah

Oleh: Sekar Kinanthi

Aroma kopi Gayo dan tawa Kirana biasanya adalah kombinasi yang menenangkan. Tapi sore itu, di sudut kafe langganan kami udara terasa statis. Aku duduk di sana menyesap americano dinginku sambil menyaksikan sebuah pengkhianatan kosmik yang terpampang nyata.

Di jari kelingking kanan Arya, seutas benang merah—setipis serat sutra namun berpijar seperti neon—keluar dengan angkuh. Ia tidak mengarah padaku. Benang itu meliuk malas di antara cangkir-c...

Baca selengkapnya →