Panci di atas kompor masih hangat. Kuah kecokelatan berkilau di bawah lampu dapur, mengirimkan bau manis bawang dan kecap ke seluruh sudut rumah.
Bau itu menempel di dinding, di ingatan, dan di sela tatapan. Ia berdiri lama di ambang pintu, menatap panci itu seakan menatap masa depan yang penuh janji.
Sang ibu menepuk bahunya dengan lembut. “Itu buat sahur kita nanti. Makanya, cepat tidur.”
Ia menadahkan wajah, menyambut uap yang melayang ...