Pagi itu, seperti biasa, aroma kopi tubruk dari dapur menyusup ke hidungku. Wulan, istriku, sibuk menggoreng tempe di kompor. Rambutnya yang hitam legam diikat asal, dan senyumnya selalu hangat saat menyodorkan secangkir kopi panas. Kami sudah menikah sepuluh tahun, punya dua anak: Raka yang berusia delapan dan Sinta yang lima. Rumah kami di pinggir kampung Surabaya ini sederhana, tapi penuh tawa. Atau begitulah yang kukatakan pada diri sendiri s...