"Nanti kita beli ya..."
"Nanti bisa jadi milik kita, kok."
"Nanti pasti akan kesampaian juga."
Sederet kalimat itu adalah mantra yang selalu diucapkan Bapak. Sebuah janji yang digantungkan di awang-awang setiap kali aku melapor bahwa buku tulisku sudah habis, atau saat aku tertunduk lesu karena seragam olahragaku jadi yang paling beda serta paling kusam di antara teman-teman sekelasku yang lain, atau ketika beberapa guru menegur agar ora...