Malam hampir jam sebelas saat napasku benar-benar berantakan.
Bukan lagi sekadar sesak—lebih seperti kehilangan arah.
Aku duduk diam, mencoba menarik udara pelan-pelan. Dadaku terasa terlalu sempit. Setiap tarikan berhenti di tengah jalan—setengah jadi, setengah hilang.
Mama yang pertama sadar.
Suaranya saat membangunkan ayah tidak lagi bisa disembunyikan.
“Bangun yah… kakak sesak.”
Ayah terbangun dengan kaget, matanya masih berat.
“Asma...