Bonn, di kota yang jauhnya ribuan mil dari Jakarta itu, aku belajar tentang rindu dan tentang seseorang yang tak pernah benar-benar kumiliki.
Namaku Ray.
Aku pertama kali melihatnya bukan di kampus, tapi di bandara.
Hari itu aku baru tiba di Jerman. Tubuhku masih lelah didera jetlag setelah penerbangan panjang dari Jakarta. Di antara antrean panjang penumpang bandara Cologne Bonn, aku melihat seorang gadis berdiri beberapa meter di depanku. Ia menge...