Aku berjalan ketika mendung mulai datang. Jarum tangan berbisik di telingaku. Katanya, hari ini harus menemukan akhir. Walau, sebenarnya, aku tahu bahwa tak ada yang pernah benar-benar berakhir, bahkan setelah titik menjadi noktah di atas kertas.
Ia pernah, mungkin masih, menjadi nyala yang kujaga dalam setiap kegoyahan lilin. Ia pernah, mungkin juga masih, menjadi api kecil di ujung korek api--aku masih punya 50 batang yang belum kutuntaskan.
Atap...