Aku kembali ke halte ini untuk mengakui satu hal: aku gagal. Bangku besinya masih sama dinginya seperti terakhi kali aku duduk disini bersamu. Waktu itu kita tertawa keras, dan yakin bahwa ini adalah jalan yang terbaik dan membawa kita ke tempat yang sama.
Kita bahkan tidak sempat memikirkan kemungkinan lain -bahwa suatu hari lagi aku tidak akan kesini lagi sendirian. Bus-bus datang dan pergi seperti biasa. Mesin mereka meraung pendek sebelum mela...