“Titip dua ribu rasa ya.”
Kalimat itu terdengar sederhana sekali. Terlalu sederhana untuk diingat terus-menerus oleh seseorang sepertiku. Tapi anehnya, dari sekian banyak percakapan yang pernah lewat di antara kita, justru itu yang paling lama tinggal.
Kau mengucapkannya di depan kasir minimarket, sambil menyerahkan uang yang kurang dan tertawa kecil karena merasa itu candaan yang receh. Orang-orang mungkin akan lupa lima menit kemudian. Kasir ...