Aku mengintip laci mejaku yang penuh dengan stiker warna-warni, lacinya begitu penuh sampai tak jarang rasanya sulit untuk kututup—mungkin ada ratusan di sana. Bentuknya macam-macam—bintang berwarna-warni, apel merah dan hijau, wajah tersenyum dengan pipi merah muda.
Dulu, setiap pagi sebelum kelas dimulai, aku menyusunnya rapi di atas meja kecil di ruang guru. Anak-anak tahu, satu stiker berarti satu keberanian kecil: berani mengangkat tangan...