Kabut senja merayap masuk melalui celah-celah gorden renda yang mencokelat dan rapuh di Solarium Utama. Di dinding, sepasang mata cat minyak milik mendiang leluhur Van Der Meer seolah terus mengawasi punggung Emily, memaksanya menegakkan tulang selangka hingga terasa kaku. Ia memaksa seteguk cairan hangat melewati tenggorokan, mengabaikan cecapan tajam mirip karat besi yang tertinggal di pangkal lidah.
"Kau gelisah, Emily," sepotong suara parau me...