Kamar nomor tujuh belas tidak pernah benar-benar luas, tapi setelah kamu memutuskan untuk malas bernapas, ruangan ini mendadak menjelma lapangan bola yang lepas. Kasur kapuk yang biasanya ambles oleh beban dua tubuh, kini rata sebelah, menyisakan cekungan dingin yang enggan pulih. Setiap pagi, jam dinding tidak lagi berdetak, ia mendepak sepi yang merangkak.
Tanganku sibuk mengetuk-ngetuk meja kayu yang lapuk, mencoba meniru irama langkah kakim...