Hujan turun tipis di Jakarta malam itu. Lampu-lampu jalan memantul di aspal yang basah, membentuk garis-garis cahaya seperti luka panjang di kota yang tidak pernah benar-benar tidur.
Arga Mahendra mematikan layar laptopnya perlahan.
Di ruang rapat lantai tiga puluh dua itu, semua orang baru saja selesai memujinya. Direktur termuda. CEO paling visioner. Pendiri aplikasi transportasi terbesar kedua di Indonesia.
Tapi tidak satu pun dari mereka tahu ka...