Aku tertawa dalam hati, ketika seorang turunan Yaman yang mereka panggil Habib Bakar, mencoba merukiyah aku. Padahal aku hanya sedikit emosi, bahkan sudah cenderung sabar. Alasannya uang lemburku selama dua tahun belum pernah dibayar.
Aku yang mantan santriwati ini sebetulnya ingin sekali tertawa, habib abal-abal itu membaca doa dengan bahasa arab. Aku paham artinya, karena di pesantren pun aku belajar bahasa arab. Intinya ia hanya merubah doa ...