Ujung halaman seratus dua puluh empat itu sudah melipat dua kali, menciptakan bekas tekukan putih yang mulai dekil akibat bekas minyak dari jempol kanan milik Anto. Di teras perpustakaan daerah yang pengap oleh aroma kertas tua dan keringat pengunjung, ia duduk menghadap sebuah meja kayu lapuk yang salah satu kakinya diganjal lipatan kardus mi instan agar tidak bergoyang. Di hadapannya, sebuah buku novel terjemahan dengan sampul lusuh bergambar s...