Pukul tujuh malam.
Dapur ini tidak pernah benar-benar hangat. Lantai ubinnya sewarna semen mati, menyisipkan rasa dingin yang lekat dan menggigit kaki. Seolah ubin-ubin ini menolak belajar cara memeluk; mereka hanya tahu bagaimana menyedot sisa kehangatan dari telapak kaki saya yang pecah-pecah.
Di atas meja kayu yang ringkih, sebotol obat penenang dan segelas air putih berdebu berdiri bersisian. Mereka seperti sepasang sipir setia, menunggu Ibu da...