Malam itu Jakarta seperti kota yang lupa cara bernapas.
Hujan menggantung rendah di langit, tidak jatuh, hanya menekan. Lampu-lampu jalan memantul di genangan seperti mata yang terlalu lama menahan tangis. Di sudut warung kopi dekat rel kereta, televisi 24 inci menggigil menayangkan ulang momen yang sama: bola melambung tipis di atas mistar, peluit panjang, lalu wajah-wajah muda berseragam merah yang runtuh di rumput hijau.
Indonesia gagal.
Gagal la...