Mei

Oleh: Indra Afriza Arsad

Terminal Citeureup basah sejak sore. Hujan menggantung di udara seperti dendam yang belum sempat jatuh. Di ujung bangku besi yang catnya mengelupas, seorang perempuan duduk dengan tubuh membungkus kehidupan kecil dalam selimut lusuh. Putri kecilnya tertidur, pipinya basah bukan karena tangis, tapi karena udara yang terlalu dingin untuk jam segini.

Ia menggenggam gagang koper di satu tangan, dan menekan kantuk dengan tangan lainnya.

Namanya, di kota...

Baca selengkapnya →