Aku selalu menganggap diriku suami yang baik.
Berangkat pagi, pulang malam, bahkan sering keluar kota berhari-hari demi cicilan rumah dan tabungan masa depan anak kami. Aku merasa sudah menunaikan tugasku. Setidaknya, itulah kesombonganku.
Istriku, Rani, adalah perempuan yang kecantikannya tidak memudar bahkan setelah melahirkan anak pertama kami tiga bulan lalu. Namun, jarak membuat rasa takut kehilangan tumbuh seperti rumput liar di kepalaku. Da...