Profesor Hanggoro meninggal pada sore gerimis, ketika kota belum tahu cara bernapas di tengah pandemi. Rumah sakit penuh. Jalanan sunyi seperti kota yang lupa fungsinya. Tidak ada perpisahan yang benar-benar utuh—hanya kabar singkat, suara telepon yang tertahan, dan hujan yang turun tanpa jeda. Orang-orang terdekatnya bahkan tidak diizinkan untuk sekadar menyapa untuk terakhir kalinya, apalagi menyentuh.
Sejak hari itu, setiap sore, seekor kucin...