Damar selalu membenci hujan.
Bukan karena jalanan menjadi macet atau pakaian cepat basah, melainkan karena hujan mengingatkannya pada hari ketika ibunya pergi. Saat itu usianya sembilan tahun. Ia berdiri di depan rumah sederhana mereka sambil memegang mobil-mobilan plastik yang rodanya sudah hilang satu. Ibunya memeluknya sebentar, mengecup keningnya, lalu berjalan menyusuri jalan desa yang diguyur hujan tanpa pernah menoleh lagi.
Sejak hari itu, D...