Malam turun di atas Keraton Wisesa seperti kain kafan yang disampirkan perlahan. Lampu minyak di balairung bergoyang oleh angin dari celah jendela, membuat bayangan para pejabat menari di dinding batu. Raja Wira Bhumi duduk di singgasana tanpa bergerak, tetapi seluruh isi istana tahu malam itu bukan malam untuk diam.
Di hadapannya, Patih Jayeng berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Wajahnya tenang, seperti orang yang terlalu lama menyimpan...