"Kalau dalam lima detik lagi kamu belum keluar, pintunya saya dobrak."
Aku melirik jam lalu mulai menghitung, empat menit lima puluh delapan detik.
"Silakan."
Tidak ada jawaban, dan waktu lima detik itu berlalu, lalu berikutnya.
Brak.
Pintu kamarku benar-benar copot, seorang pria berjas hitam berdiri di ambang pintu sambil menatap engsel yang kini tergeletak mengenaskan di lantai.
"..."
"..."
"Oke." Ia menghela napas.
"Aku baru pertama kali merusak proper...