Kabut pagi masih menggantung di lereng Bukit Kendaga ketika Bayu mengangkat pahatnya untuk memulai pekerjaan.
Usianya baru dua puluh tahun. Sejak kecil ia belajar memahat batu dari ayahnya, seorang pengrajin yang dipercaya mengerjakan prasasti-prasasti kerajaan. Baginya, setiap guratan pada batu bukan sekadar tulisan, melainkan cara agar masa depan tetap mengingat masa lalu.
Kerajaan Waringin sedang berada pada masa yang sulit. Raja tua jatuh sakit...