Hujan turun deras ketika Kereta Cepat Arunika meninggalkan Stasiun Sentral tepat pukul 20.00. Malam itu seharusnya menjadi perjalanan biasa menuju Kota Arunika dengan waktu tempuh hanya dua jam.
Di gerbong paling depan, Gilang, masinis magang berusia dua puluh lima tahun, duduk mendampingi Masinis Surya yang telah bekerja lebih dari dua puluh tahun.
"Kalau kereta cepat, yang paling penting bukan kecepatan," kata Surya sambil memeriksa panel kendali...