Arsya melihat rapotnya. Wajahnya murung. Ia sendirian tidak naik kelas.
Tapi bukan itu yang membuatnya sedih. Ia lebih sedih karena ia sebatang kara.
Ibunya meninggal ketika melahirkannya, diakibatkan sang ayah hanya bisa membayar dukun bayi. Sayangnya dukun bayinya kurang berpengalaman.
Sedang sang ayah tewas dalam kerusuhan besar, dikompori cukong tanah, yang mengklaim tanah yang faktanya bukan hak mereka. Saat itu usia Arsya lima t...