Gemertak teriakan keputusasaan menyeruak ke udara,
Bertambahlah mayat mayat cendekiawan tergeletak di atas tanah,
Aku terduduk pada batu yang dianggap mulia oleh pemilik mata terang,
Sambil mengamati,
Teriakan demi teriakan silih berganti,
Detik demi detik waktu hilang tanpa jati diri.
Sebentar lagi,
Sebentar lagi waktu berdering nyaring,
Pintu baru tanpa batas akan membabat habis tuntas,
Segala yang tak layak untuk tanah yang mulia.
Sebentar lag...