Gadis Seruling, Koin Perak, dan Penunggang Kuda

Oleh: Wina Sari Ardini

Tak ada hakim yang lebih tajam pandangannya daripada kanvas kosong. Dari atas tembok pertahanan kastil yang telah ditinggalkan lebih dari seratus tahun, aku memandang hamparan luas padang berumput menguning. Air dari sungai kecil yang meliuk-liuk membelah padang rumput memantulkan sinar mentari sore sehingga yang tampak mengalir di sana bukanlah air, melainkan bongkahan emas yang telah dilelehkan.

Di bawah tatapan tajam kanvas itu aku merenung, ku...

Baca selengkapnya →