Sepenggalan Pagi
Jam enam pagi, dan aku sudah terjaga sebelum alarm berbunyi — seperti biasa, karena tidur nyenyak sudah lama jadi barang mewah yang tak bisa kubeli.
Aku duduk di tepi ranjang, menatap lantai yang dingin, dan pikiran itu datang lagi seperti tamu tak diundang: Kalau saja aku berhenti saja. Kalau saja jiwa ini boleh pergi.
Bukan sekali dua kali pikiran itu singgah. Ia datang setiap kali tagihan menumpuk, setiap kali pekerjaan terasa ...