Lampu panggung menyala putih terang, dan aku berdiri di tengahnya seperti biasa — mata tertutup kain hitam, tangan terbuka ke arah penonton, menunggu seseorang naik ke atas panggung.
"Siapa pun yang berani," kataku, suara dibuat berat lewat mikrofon, "aku akan membaca pikiranmu. Semua yang kau sembunyikan, bahkan dari dirimu sendiri."
Ini bagian favoritku. Bukan karena tepuk tangan yang menyusul, tapi karena momen sebelum aku menyentuh dahi merek...