Ada satu cangkir kopi di rak dapur yang tidak pernah kupakai untuk siapa pun selain kau.
Bentuknya biasa saja—putih polos, sedikit gompal di bagian pegangannya karena pernah jatuh waktu kita bertengkar kecil soal hal yang sekarang bahkan tak lagi kuingat detailnya. Tapi cangkir itu tetap kusimpan, tidak kubuang, karena di dasarnya masih ada tulisan tanganmu, ditulis pakai spidol permanen di malam ulang tahunku yang keempat sejak kita bersama: "S...