Laras sejak tadi terus mencari. Ia merasa tulisan pertamanya lebih berharga, ketimbang seluruh karya terkininya yang ia anggap sampah.
Perpaduan estetika antara diksi puitis dan plot berkelas. Sejak dulu Laras berpikir, kapan lagi ia bisa menulis seperti itu.
Kini tulisannya hanya memenuhi satu syarat saja. Kadang puitis, tapi biasa saja secara plot. Meski orang lain tak menilainya begitu.
Terkadang plotnya luar biasa, hanya ...