Lentera di Balik Kabut

Oleh: Muhammad Ahnaf Putranto

Aku tahu Sena berbohong saat bibirnya menyentuh bibirku di bawah pendar lampu peron yang berkedip mati-nyala. Pria yang benar-benar berniat menua bersamamu di sebuah pondok tenang di tepi danau, tidak akan menyembunyikan pistol revolver kaliber 38 yang telah terkokang di balik mantel basahnya.

Peluit kereta malam berjerit membelah kabut pekat jam dua pagi, suaranya terdengar seperti raungan binatang buas yang terluka. Jari-jari Sena mencengkeram b...

Baca selengkapnya →