Sore itu Mbah Darmo duduk di teras seperti biasa. Kursi rotannya sudah reyot, tiap digoyang bunyinya kriet-kriet. Anak-anaknya sudah berkali-kali minta mengganti, tapi dia tidak mau. Katanya, bunyi itu sudah seperti teman ngobrol.
Teh di cangkirnya sudah dingin sejak tadi dan dia lupa meminumnya. Matanya menatap ke barat, ke garis tipis tempat sawah ketemu langit. Matahari turun pelan di sana, merahnya mirip gula jawa yang meleleh di wajan.
Dadanya...