Lembar demi lembar buku bersampul kusam itu dibukanya perlahan. Tak ada cerita panjang di sana, hanya coretan kalimat rindu yang tertulis sporadis selama tiga tahun terakhir—hanya muncul saat dadanya terlampau sesak.
"Hai, aku merindukanmu... lagi."
Hanya itu. Ia bahkan sudah lupa bagaimana cara mengekspresikan rindu dengan cara lain.
Denting dentang cangkir dan hiruk-piruk kafe tempatnya mengerjakan tugas mendadak samar saat sebuah lagu yang tida...