Baru kali ini, aku merasa sedih menjadi sebuah monitor. Dulu, ada rasa superior ketika melewati tensimeter ataupun termometer. Hehehe. Aku lebih gagah, fiturku lebih lengkap, dan bunyiku lebih mantap terdengar. Tetapi, kali ini, aku merasa mereka lebih beruntung. Mereka ringan, sehingga lebih mudah dibawa kemanapun Navi mau. Aku ingin seperti itu. Digenggam dan dipeluk oleh Navi sepertinya menenangkan.
Untuk kasus ini, kesedihanku terbit karena alasan lain. Sudah lima belas menit aku mendengarkan Lio dan Pak Gading berbincang di dalam kamar Amih, dan belum usai perbincangan selesai, mereka melanjutkan diskusinya diluar kamar. Jika saja ini adalah perbincangan biasa, mungkin aku datar saja. Tetapi, perbincangan kali ini agak janggal bagiku.
Kurasa ini lebih aneh dari perkataan Lio kepada Amih tempo hari, “Jangan dulu mati.” Aku merinding mendengarnya, meskipun tak ada yang salah dengan kalimat itu. Tetapi, Lio yang ringan dan ceria, memasang wajah yang tak biasa saat mengucapkannya.
Lima belas menit yang lalu, Pak Gading datang dengan sepatu kilapnya. Sebelumnya, aku menganggap relasi Lio dan Pak Gading tidak lebih dari keluarga penunggu pasien yang kebetulan berpapasan di lorong unit, dan kemudian saling menyapa dan menceritakan hari-hari di rumah sakit. Tapi, kedatangan Pak Gading tadi mengubah presepsiku karena sepertinya ini bukan sekedar diskusi sederhana.
“Polis asuransi disertakan dengan membawa surat kematian dan bukti ahli waris. Itu saja, Pak. Tidak perlu menyertakan apa-apa dan merekayasa apa-apa. Biar tim saya yang bergerak, Pak.”
Sejak kalimat ini diluncurkan dari mulut Pak Gading, aku mulai fokus mendengarkan.
“Nama saya sudah di black list dari Allianx. Oleh karena itu, jangan sampai pihak Allianx tahu tentang hal ini, karena tentu saja ini bisa merugikan saya dan bapak.”
Pak Gading terkekeh. Perut buncitnya bergetar. “Tenang saja, Pak Lio. Kami adalah kompetitor. Informasi kami bocor kepada mereka? Tidak akan.”
“Justru karena kompetitor, Pak. Kita harus lebih berhati-hati,” sanggah Lio.
Pak Gading mengangguk paham. “Beres, Pak.”
“Kapan saya bisa dengar kabar baiknya?”, Lio bertanya.
“Wah, buru-buru sekali, Pak,” Pak Gading terkekeh lagi. Tertawa karir. Tertawa bisnis.
“Sayangnya, kali ini bayarannya bukan uang. Lagipula, saya tahu bapak sedang menghemat biaya.”
Lio memiringkan kepalanya. Mengerenyitkan dahi.
“Saya butuh kemampuan bapak di bidang hukum.”
Lio diam sejenak. Mungkin berpikir, apakah dia harus maju atau berhenti. Karena, permintaan pak Beni bisa saja membawanya ke jurang yang lebih dalam.
“Di bawah ada coffee shop. Ada Americano kesukaan Pak Gading.”
Pak Gading terkekah, untuk yang ketiga kalinya. “Anak muda memang beda,” gumamnya. Wajah rianya semakin semarak.
===
Sekembalinya Lio ke ruangan, aku lihat ia hanya sendiri. Pak Gading tak membuntuti. Tidak seperti biasanya, ia tak langsung mendekati dan menyapa Amih. Begitu membuka pintu kamar, ia langsung duduk di atas sofa dan merenung. Jemarinya ia satukan dan memilih lututnya sebagai penopang tangan. Aku melirik jam dinding. Dua puluh menit berlalu dan ia belum berpindah juga.
Perenungannya ia akhiri dengan memijit bel merah di sudut ranjang Amih.
“Pak Lio?”, Satu menit kemudian, Suster Tiwi masuk dan menyapa. “Butuh bantuan?”
Lio mengangguk tenang. “Suster, sepertinya tadi Amih agak mengerang. Mungkin ada sakit atau apa. Bisa bantu dicek?”
Suster Tiwi mengangguk. “Sebentar pak,” ia menghampiri Amih dan membelai punggung tangannya. “Amih, selamat siang,” Suster Tiwi tersenyum. Amih hanya mengangguk sedikit. Suster Tiwi mengecek posisi selimut, bantal, serta kasur angin Amih, siapatau ada bagian tubuh Amih yang terhimpit disana. Tapi, tidak ada apa-apa.
Memang seharusnya tidak ada apa-apa, batinku. Tidak akan ada kejanggalan yang Suster Tiwi temukan.