Langit abu-abu di atas sana menggumuli sinar matahari yang seharusnya membangunkan Vita pagi ini. Aku tahu, prinsip Vita adalah tidak akan beranjak dari tempat tidur sebelum matahari menyilaukan matanya.
Aku menghampirinya dan bersiap memulai operasi pelepasan kemalasan Vita, lagi.
“Vit! Vit!”, aku menggoyang-goyang lengan Vita. Alarm yang dipasangnya dengan suara stereo belum juga berhasil membangunkan manusia kerbau satu ini. Vita menggeliat sekilas, lalu tidur lagi.
“Vit, home care, Vit!”
“Gentiin gue sih, Rein. Please. Kali ini, aja. Tar duitnya bagi dua,” kata Vita semena-mena.
Aku terbengong.
“Bukan masalah duitnya, Vit. Aku kan enggak tahu kayak gimana pasiennya. Lagian kamu kebiasaan nih! Kalo udah jelas-jelas kebluk, ga bisa home care pagi, ya jangan ACC. Kamu nih, ah. Ngaco. Vit! Bangun Vit! Oke lah melofen1 dulu. Hari ini bareng kamu. Besok aku sendiri enggak apa-apa,” aku masih belum menyerah. Kutarik selimutnya, kutarik bantalnya.
“Rein!”, Vita menarik selimutnya lagi. “Gue baru pulang subuh tadi, abis jaga malam kedua. Please lah, Rein. Pasiennya cuma luka diabetikum2. Wound care3 aja. Lengkap semua dressing-nya disitu. Makan siang disediain. Hari ini elu libur, kan?”
“Vitaaaa..” Echoooo! Kenapa sih kamu bisa punya sepupu separah ini?
“Please, Rein. Sekali ini aja,” Vita semakin menenggelamkan kepalanya kedalam selimut. Aku tahu ‘sekali ini’ tak akan berarti sekali ini bagi Vita. Aku mengibarkan bendera putih. Lagi. Dengan bergegas, aku menyambar handuk dan gelas gosok gigi.
¼
“Ting tong!”
Wanita yang kutaksir berumur 60 tahunan membukakan pintu dengan tergopoh-gopoh. Aku menyunggingkan senyum. Tidak, dia yang pertama memberikan senyum manisnya untukku.
Giginya yang ompong di beberapa bagian tidak mengurangi sisa-sisa kecantikannya di masa lalu.
“Vita, ya?”
Astaga si Vita. Nama saja harus kusamarkan dulu.
“Iya, Oma. Salam kenal,” ujarku. “Mari, mari,” katanya, menggiringku ke sebuah ruangan berdaun pintu tebal. “Temanmu sudah menunggu. Kelihatannya ia mengantuk sekali.”
Begitu pintu dibuka, aku melihat Mas Gogon sedang mengatur posisi tempat tidur.
“Eh, Rein! Vita mana?”, tanyanya spontan. Aku melotot, membuat Oma terlihat bingung. Mas Gogon tersenyum kecil. “Reindita Vitasari, baru dateng?”, Ralat Mas Gogon, sok asik. Sementara namaku digabungkan dengan nama Vita. Salah pula. Jadinya mirip dengan nama toko kue dekat rumah. Aku mesem-mesem saja. Oma terlihat tak terlalu peduli, ia segera mempersilahkan aku masuk dan meninggalkan kami bertiga. Mas Gogon, aku, dan pasien kami.
Begitu pintu ditutup, tawa Mas Gogon tumpah. “Pinter banget si Vita, selalu berhasil memperdaya elu. Salut, gue. Hahaha.”
Memperdaya? Enggak ada kata-kata yang lebih menjunjung harkat dan martabat aku, apa?
“Aku sampe niat beliin dia bedug mesjid, Mas. Taro di samping tempat tidur tu anak. Gentiin alarm.”
Sekedar info, Mas Gogon ini adalah bos home care paling ciamik yang pernah aku tahu. Link home care nya banyak banget. Mau di daerah mana? Se-Bandung Raya ada! Perawat yang pengangguran bisa mendadak kaya kalau kerjasama sama orang satu ini. Syaratnya tiga: pintar, siap dipanggil kapan saja, dan siap mengganjal mata pakai korek api ketika kebagian shift malam. Yakin bakal mendadak banyak ‘wang-wang-wang’.
Mas Gogon tergelak mendengar leluconku. “Bisa nih, kapan-kapan gentiin gue home care juga?”
“Gigit, nih!” gigiku gemeretak, gemas. “Ia kalo aman. Kalo pasien terminal? Kalo pas aku jaga terus emergency?”, kataku setengah berbisik, takut terdengar Oma. Mas Gogon tertawa geli. “Engga akan tega lah, kalo gue, Rein. Lagian elu baik banget sih.”
Baik, apa bego? Beda tipis.
“Lagian, mau dong, digigit elu,” dia tergelak lagi.
Aku menghela napas. Melirik Mas Gogon yang cengar-cengir, entah harus menjawab apa.
“Lanjut serah terima aja, Mas. Kata Oma kamu udah ngantuk-ngantuk.”
Beberapa menit kemudian, kami sudah asik membahas pasien kami. Namanya Oma TjuTji. Usianya sudah lebih dari ¾ abad. Ternyata, oma yang membukakan pintu adalah adik dari Oma TjuTji. Singkatnya, Oma TjuTji menderita darah manis sejak ia berumur 40 tahun. Luka-lukanya sulit sembuh. Matanya sudah mulai memburam sekarang.
“Kadar gula darah terakhir, bos?”
“256,” kata Mas Gogon. Wow juga. Dietnya pasti dibumbui dengan beberapa belas unit insulin. Aku mencatat semua yang Mas Gogon laporkan.
“Ada luka di mata kaki, ya, Rein. Sama di bokong. Genti aja balutannya. Terakhir nanah nya tinggal sedikit. Lihat-lihat aja. Semua wound dressingnya ada di laci, pake aja.”
“Insulin4 nya pake apa?”
“Novorapid, sekarang lagi di 12 unit. Tapi adiknya Oma TjuTji ini yang nyutikkin. Elu ingetin aja siapa tahu dia lupa.”
“Oke, oke.”
“Eh, gue nyediain stok Dextrose5 40% sama air gula di laci situ, ya. Kali hipoglikemi6,” Mas Gogon menunjuk salah satu laci kayu di pojok kamar.
Aku mengangguk, “Udah?”
“Em, apalagi ya? Elu WhatsApp aja deh kalo mau tanya apa-apa.”
“Sip deh. Udah, sana. Tidur kamu mas. Tar malem jaga malem lagi, kan?”
“Iye. Dan kayaknya gue bakal ketemu lu lagi besok pagi,” Mas Gogon nyengir.
Aku mengangkat bahu, pasrah. Mas Gogon terkikik.
“Oke Rein. Aman-aman ya!”
“Amin, mas,” mataku menemani Mas Gogon keluar dari kamar ini, dan diakhiri oleh pintu yang ditutup pelan.
Oke, the first thing I should do adalah mulai merapikan lingkungan sekitar tempat tidur Oma TjuTji. Mas Gogon, yang notabenenya masih cowok, meninggalkan bungkus keripik kosong dan kulit kacang rebus di atas nakas. Kuramal dia tidak bisa tidur semalaman karena Oma TjuTji ini. Nah, sekarang saja si Oma sudah mendelak-delik kepadaku, minta ditemani ngobrol sepertinya.
“Oma, selamat pagi,” kata-kata standar yang kugunakan setiap kali memulai percakapan. “Saya Vita. Oma siapa namanya?”
“Bukannya sudah dikasih tahu sama Gon ya?”