Aku menyukai taman bacaan.
Bagiku, itu seperti sebuah “hutan” alami di tengah kota. Sebuah ruangan yang hanya berisi tumpukan buku-buku rapi. Karakter di cover buku yang seringkali dibuat sesuai dengan karakter penulisnya. Semuanya alami. Tidak ada yang dibuat-buat, dan tak ada yang perlu dibuat-buat. Hanya buku, rak buku, dan beragam ekspresi manusia-manusia yang tenggelam dalam bacaannya. Lembar-lembar itu dapat menimbulkan beragam reaksi unik. Aku beruntung bisa melihat keunikannya dalam sebuah guratan wajah—merengut, geli, sedih, gemas, ataupun marah—dan bagiku, aura wajah-wajah seperti itu melebihi ketertarikanku mengamati wanita dengan alis tegas atau pria yang bermata tajam.
Aku beruntung menjadi anggota taman bacaan ini. Echo yang mempromosikannya padaku sebulan lalu. Aku ingat ketika dia—dengan semangat Pattimura—menjelaskan dengan rinci tentang begitu dekatnya tempat itu dengan kost-ku, lalu buku-buku yang lengkap (dia melengkapi promosinya dengan menyebutkan beberapa penulis novel favoritku yang bukunya terpajang disana) dan harga peminjaman yang sangat murah. Aku curiga dia mendapatkan komisi dari ownernya, karena Echo tidak pernah sesemangat itu menjelaskan sesuatu. Siang itu juga, aku—ditemani Echo—mendaftarkan diri sebagai member baru disana.
Hari ini, hanya ada aku sendiri. Echo sedang menghadiri evaluasi tahunan dengan seniornya. Aku tidak benar-benar sendiri, sih. Seorang laki-laki berjanggut tipis sedari tadi duduk disampingku, tapi sayangnya aku tidak mengenalnya. Satu hal yang aku tahu, dia sedang menekuni Naruto. Komik fiksi yang berisi perjalanan Hokage dari beberapa generasi bertumpuk rapi di tengah-tengah kami. Dia baru saja membaca jilid ke-17. Dua kemungkinan: dia tertinggal dari trend ‘demam’ Naruto, atau dia si pembaca super setia yang mengulang, mengulang, mengulang kembali kisah love and hate—masa lalu pahit yang mewarnai persahabatan—Naruto dan Sasuke.
Perhatianku kembali teralihkan dengan rintik-rintik hujan yang mulai membasahi kaca di depanku, semakin lama semakin berisik. Ruangan ini menjadi lebih sejuk.
Bagiku, hujan seperti memberikan sebuah pemaksaan yang menyenangkan setiap kali aku berada di hutan kota. Air-air hujan yang lewat di depanku berteriak, “Jangan pulang sekarang. Kami akan menyerang bumi lebih bertubi-tubi!”
Akan ada waktu lebih lama bagiku untuk membenamkan diri disini, menyendiri diantara tumpukan buku-buku.
Hutan kota merupakan tempat tersunyi saat situasi bagaimanapun. Aku tak harus menanggapi obrolan siapapun tentang kemeja mahal yang kemarin didapati dengan label diskon dari sebuah distro. Bukannya tak suka, tapi kadang jemu saja. Disini kudapati kesunyian yang cozy, kalau aku boleh meminjam bahasa Echo. Hanya ada celetukan kecil seperti ketika kakak admin yang mengambil kain pel bergagang untuk membersihkan sisa tanah dari jejak sepatu yang tercetak jelas di keramik, laki-laki berjanggut di sebelahku berceloteh, “Mau terbang, mbak?”
“Iya, mau nemenin Harry Potter nih.”
Ada sedikit tawa ringan, dan setelah itu kembali sunyi. Aku kembali berdiskusi dengan bacaanku, dan pria berjanggut kembali menenggelamkan diri dalam ekspedisi Naruto dalam penyelidikannya menuju basecamp Akatsuki.
Orang-orang berkulit gelap yang datang kembali mengalihkan kesenanganku. Mereka berambut keriting kecil-kecil.
“Mau jadi member, mbak,” kata salah satu dari mereka dengan logat timur yang kental.
“Iya, untuk berapa orang? Biar saya ambilkan member card nya dulu,” kata Mbak Ayuni, mbak admin yang super ramah.
Laki-laki tadi—yang kukira kepala pasukannya—menghitung jumlah kawanannya.
“Tuju, mbak,” dia lupa menyelipkan huruf H di akhir kata itu.
“Sebentar, ya,” Mbak Ayuni masuk ke dalam ruangan bernama Staff Only. Beberapa diantara mereka melihat ke arahku, mungkin merasa diperhatikan. Alih-alih kembali membaca buku, aku semakin kentara mengamati mereka. Beberapa diantaranya mempunyai logat yang sudah memudar, ada yang memakai kosakata anak Betawi modern, ‘Gue-Elu’. Mereka begitu menarik perhatianku, padahal aku sering melihat gerombolan manusia-manusia hitam manis seperti ini keluar masuk gerbang ITB atau sempat kudapati mereka duduk berjajaran di satu deretan bangku gereja.
“Ini member card sementara,” Mbak Ayuni menyerahkan member card sejumlah yang mereka sebutkan tadi. Tidak lupa Mbak Ayuni menjelaskan perihal member card paten yang akan diberikan tujuh hari setelah mereka membayar uang pendaftaran.
Sang ketua suku mengangguk mengerti, kemudian mengisyaratkan mereka untuk mengambil salah satu tempat duduk yang masih kosong. Tempat itu adalah persis di sebelahku, mengingat kakak berjanggut tipis sudah pulang disela aktifitasku meng-kepo-i si tamu-tamu baru. Aku sedikit menggeser tempat dudukku, walaupun itu tidak cukup mempengaruhi lebarnya space diantara kami. Fiks, aku berada diantara mereka.
“Mulai dengan mencari sumber buku,” Ketua suku—masih dengan logat kentalnya—mulai melakukan supervisi. Beberapa orang berdiri dan mencari buku. Entah bertemakan apa. Di hutan kota ini, yang ku tahu, kebanyakan komik dan novel. Ada sedikit buku motivasi juga, salah satu contohnya pernah kulihat: Trik Mendapatkan Kedamaian Hati dalam Waktu Singkat. Aku tahu karena Echo meminjam itu kemarin, ketika menemaniku mengembalikan Rapijali.
Aku tak jadi membaca the most interesting “Mematahkan belenggu LGBT” yang sedang kupegang ini. Kali ini, ketertarikanku condong kepada siapa mereka dan apa yang akan mereka bahas. Tak selang beberapa menit, beberapa utusan kembali, membawa beberapa novel berkisar 500-an halaman. Kuduga novel terjemahan.
“Ini,” satu orang menyerahkan sebuah novel kepada kepala suku. Sekilas aku membaca judulnya. 50:50. Fifty fifty? Trik-trik menggunakan salah satu bantuan di kuis Who Wants to Be A Milionare dengan lebih efisien?
Satu diantaranya menyerahkan buku lagi. Kali ini lebih tipis. Mataku berakomodasi lebih jeli untuk membaca judulnya. He is My Lucifer? He is My Sitter? Boy sitter maksudnya?
Atau He is My Supper? Tapi kok kedengerannya ngeri, ya.
“Ada lagi?”
“Sementara sih, itu, Jack.”
Jack. Cool name. Atau hanya nama slank diantara mereka?
Aku jadi berimajinasi bahwa dia adalah Profesor James Moriaty dan aku si baik Dr. Watson yang siap melaporkan berita apapun kepada Sherlock Holmes.
“He is My Sister,” Jack menyebutkan judulnya.
Oh, ternyata itu judulnya. Tak seseram dugaanku tadi.
..
Apa?
He is my.. Apa tadi dia bilang?
Aku ingin tertawa, sungguh. Oh my.. Even his face was so seriously speaking the word and haha.. Just repeat it by spelling!
“Tadi sa su baca sinopsisnya,” jelas si gemuk yang membawa buku ini.
“Ya, tentang, ko tahu lah. Dia pu kakak, kakaknya pu—apalah itu. Penyewengan seksual semasa kecil, begitulah. Lalu, jadi cewek lah dia. Pakek rok, begitu. Adiknya tahu lah. Cewek adiknya. Pernah dia ketahuan pakek adik pu rok. Adik sempat bombe1. Sempat bakalai2 mereka.”
Jack mengangguk singkat, mungkin tanda mengerti.
Ada beberapa kata yang asing ditelingaku, but that’s really is.
Aku meminta maaf sempat meragukan kemampuan bahasa inggris Jack.
It’s really He is My Sister.
Aku memasang telinga lebih tajam.
“Fifty fifty?”, Jack mengacungkan satu buku lagi. Kali ini seorang laki-laki yang kurus tinggi agak berdehem kecil, hendak memulai ceritanya.
“Ya, fifty fifty. Dia pu luar laki. Pu dalam wanita. Fifty fifty.”
Oh, itu maksudnya. Oke. Ini dapat dijadikan bahan refrensi untuk paradigma yang akan kita bahas besok. Case fenomenal yang bisa kita dapatkan di luar negeri, yang sudah menular ke Indonesia. Berapa persen dari novel luar yang mungkin akan berefek pada pembaca di Indonesia? Berapa banyak pembaca hari ini disini. Belum hari lain. Belum ditempat lain. Belum lagi faktor lain selain novel. TV? Sosial media? Pergaulan? Tetapi, ingat ya bro, kita tidak sedang membahas pro dan kontra di Indonesia, ya. Bukan baik ataupun buruknya. The point is, menganalisi bagaimana pesatnya pengaruh budaya luar khususnya LGBTQ+ yang masuk ke negeri kita.”