Suara handphone pukul 04.00 membangunkanku. Menggeliatkan tubuh mungil Vita disampingku. Aku segera menyambar ponselku, dan memeriksa layar. Papa.
“Halo, Pa?”, kataku segera setelah memijit tombol accept.
“Papa kesana minggu ini ya, Rein. Atur jadwal dinasmu, oke?”
Eh, tunggu. Mendadak sekali.
Sepersekian detik aku menyadari memang mempunyai janji dengan papa.
“Oh, yang selaput putih di mata papa itu?”, tanyaku memvalidasi. “Jadi kontrol ke sini?”
Papa menjawab ya diseberang sana. “Mungkin besok atau lusa,” jelas papaku lagi. “Mama enggak bisa antar. Jadi papa kesana sendiri.”
“O—oke,” matilah. Jadwal liburku masih tiga hari lagi. Sedangkan jadwal dokter spesialis mata hanya ada besok dan lusa saja. Aku tidak memperkirakan ini sebelumnya, padahal papa memang sudah merencanakan ini sejak bulan lalu.
“Oke, Rein. Take your time ya.”
“Ya, Pa,” papa menutup sambungan kami. Aku kembali berselimut.
Besoknya, aku menceritakan kepada Echo perihal kunjungan papa.
“Bokap elu?”, tanya Echo balik. Suara Echo tidak terlalu jelas kudengar. Dia seperti sedang mengunyah sesuatu. “He-eh. Kamu kerja?”
“Besok, apa lusa?”
“Kayaknya lusa, deh, Cho. Gimana? Bisa?”
“Okelah. Sebenernya gue masuk sih, sama Ajeng. Dia co-ass, lagi ikut praktek di ruangan Dokter Dave. Gue bisa ijin bentar sama Dave, toh Ajeng udah bisa bantu-bantu dikit.”
“Asli, enggak apa-apa?”, aku masih agak enggak enak, sih. Soalnya Echo itu baru di tempat poli Dokter Dave. Meskipun mereka sudah terlihat akrab, tetapi aku akan lebih tenang kalau dia memang sedang libur di hari itu.
“Iye, seriusan. Bisa diatur lah, itu, Re.”
Sepertinya memang bisa.
“Thanks banget loh, Cho.”
“Es krim aja.”
“Ntar, deh. Lagi dimana sih, Cho? Tempat makan?”, aku juga mendengar suara-suara seperti suara beberapa laki-laki sedang tertawa-tawa di dekat Echo.
“Iya, gathering,” katanya singkat.
“Dokter-dokter?”
“Iya. Udah dulu ya, Re. Tar gue kabarin lagi.”
Ia menutup teleponku. Tidak biasanya. Biasanya ia selalu mempersilahkan aku untuk menutup telepon duluan. That’s a simple thing, though. Tetapi, aku suka dia yang begitu.
Omong-omong garthering, dia belum memberitahuku. Atau, mungkin kali ini dia sedang mengencani seorang wanita, hanya saja ia belum bisa mengenalkannya padaku.
Nanti kutanya dia.
Aku pergi mandi. Kebetulan hari ini aku kerja siang. Sebenarnya pergantian dinas pukul 14.00, tapi aku harus datang lebih awal. Merupakan sebuah keberuntungan karena aku lebih cepat mendengar suara-suara alat medis yang berbunyi nut-nut-nut, suara tap-tap kaki-kaki yang melangkah cepat, atau kesibukan lain di IGD yang biasanya memang lebih sibuk di hari terang. For pleasure, I totally love working at this place, no matter what. Apakah kondisinya sibuk atau santai, this is really a jar of heaven for me. Dan sometimes, sebuah pernyataan tidak butuh sebuah alasan. I am in, that’s it.
Kali ini, aku merasakan bulir air mulai menuruni lekuk bahuku, lalu turun menuju lengan. Untuk ukuran daerah Bandung, mandi diantara jam sepuluh-sebelas masih terbilang pagi, dan dingin. Apalagi, cuaca diluar mendung. Aku menikmati wangi sabun kesukaanku lama-lama, dan busanya, dan dinginnya yang menempel di tubuhku, sebelum akhirnya aku bosan dan menyudahinya dengan guyuran air.
Tiba-tiba kudengar suara sandal bergerak cepat kearahku. Berlari.
“Rein, Rein!”
“Vit, kenapa? Mo pup?”
“Engga, itu ada tamu!”
“Siapa?”, rasanya tidak ada janji yang kubuat hari ini.
“Tante Luna gitu, namanya..” teriak Vita, masih dari balik pintu.
“Ah, Vit! Suruh tunggu, bentar, lima menit! Punten!”
Tante Luna kesini? Mau memberikan undangan requiem atau apa?
Segera aku sudahi berlama-lama di bawah shower. Melap tubuhku dengan handuk, dan memakai kaos seadanya yang kutemukan di tumpukan baju paling atas.
“Hai, tante,” aku tersenyum, masih agak risih dengan rambut basah yang belum sempat ku keringkan dengan hair-dryer. Aku menyalaminya sopan.
“Gimana kabar kamu?”, tanya Tante Luna. “Maaf nih, mengganggu.”
“Oh enggak, tante. Kebetulan aku dinas siang, jadi agak santai.”
Aku duduk di dekatnya. “Ada yang bisa saya bantu, tante?”
“Engga, hanya saja,” Tante Luna—dengan lembut—menggenggam tanganku yang sedang kuletakkan diatas paha. Masih bertanya-tanya, aku memilih mendekatkan posisi dudukku.
“I go to give thanks to you,” Tante Luna tersenyum.
Kehilangan itu masih jelas terukir dimatanya.
“Bara baru mengenalmu beberapa hari, tetapi rasanya dia sudah dekat sekali denganmu, Nak Rein,” katanya lirih.
“Sama-sama, Tante Luna. Saya yang malah beruntung sempat bertemu dengan Bara. Saya banyak belajar dari Bara. Dia kuat,” kataku tulus.
Tante Luna menatapku sekian detik, sebelum mengambil tas mungilnya yang ia sematkan di sisi sofa.
“Oh, iya,” Tante Luna membuka tas itu dan mengambil selembar kartu. Ukurannya mirip sebuah post card. “Ada kumpul-kumpul keluarga, sekalian berdoa untuk mengenang seminggu-nya Bara meninggal. Kamu datang ya, Rein?”
Keluarga? Aku?
“Sebenarnya, ada juga undangan untuk teman kantor tante juga,” Tante Luna seolah menduga isi hatiku. “Tapi sebagian besar adalah keluarga kami sendiri,” Tante Luna tersenyum. “Dan, Rein, tante juga sudah menganggap kamu keluarga. Dan, itu berarti, enggak ada alasanmu buat enggak datang.”
Aku melihat sampul depan kartu undangan itu. Tulisannya hanya satu kalimat, “Mengenang Bara Aditya, Hidup dan Cinta Kami” memakai tulisan perak dengan latar belakang hitam. Tentu saja, disertai dengan tanggal dan alamat acara itu diadakan.
Tante Luna tersenyum. “Terima kasih kalau kamu bisa menyempatkan diri untuk datang.”
Aku melihat matanya sedikit berharap.
Aku menuangkan air dari teko marmer mungil, dan menyodorkannya ke depan Tante Luna. Wanita itu minum barang seteguk.
“Sehat, Rein?”
“Sehat, tante. Tante gimana?”
Tante mengangguk pelan. “Ya, kadang masih merasa Bara ada disini,” Tante Luna tersenyum.
Menatap surat undangan yang aku genggam, dan kembali melihatku. “Saya kadang.. berharap. Berharap andai saya bisa memilih jalannya Bara supaya engga.. seperti ini.”
Aku menatap wajah cantik itu. Matanya membasah.
Kupeluk bahunya dengan tanggung. Tante Luna menyambut pelukanku.
Beberapa menit kedepan diisi oleh tangis wanita itu.
Bara pintar, baik, menyenangkan. Siapa yang tidak akan merasa kehilangan?
Tante Luna menyeka wajah basahnya dengan tisu. Aku menggenggam tangannya.
“Tante Luna, boleh saya bertanya tentang Bara?”
“Tanya apa, Rein?”