1/4

Sancka Stella
Chapter #6

#KUBURAN BASAH

Setelah mengantar papa, aku berbalik arah ke rumah Tante Luna.

Aku menepuk celanaku yang agak kusut, kemudian melangkah kedalam. Ini lebih ramai dari dugaanku. Beberapa orang dengan gaun hitam-hitam berdatangan bersamaan sambil membawa kartu undangan mereka. Aku melihat sekeliling, sama sekali tidak ada yang kukenal dan sepertinya tidak ada yang mengenalku. Fiks, aku harus segera mendapati Tante Luna bagaimanapun caranya.

 

“Kartu undangan?”, seseorang menepuk bahuku. Melihat dari ujung sepatu runcing yang kupakai, sampai kuncir rambut hitamku. Dengan kilat, aku merogoh tas dan meraba-raba dimana kartu kecil berwarna hitam itu kusimpan.

Dapat. Aku langsung menyerahkan kartu itu padanya. Cowok gagah itu membolak-balik kartu yang kuberikan tadi, jelas seperti tidak mempercayaiku. Aku menunjuk nama Reindita di sudut kanan bawah undangan itu.

“Ini, nama saya.”

Cowok itu memperhatikanku dengan seksama. Selama beberapa menit ia menatapku. Wajahnya agak miring sedikit ke sebelah kiri. Sampai-sampai aku hapal ada tahi lalat kecil di bawah sudut bibirnya, sangkin lamanya kami bertatapan. Mata coklatnya seperti memastikan sekali lagi kalau aku pantas dinamai Reindita. Aku bingung harus bereaksi bagaimana.

“Ok,” tanpa ba-bi-bu dia mengembalikan kartu ucapanku, lalu ia beralih menanyai tamu lain.

Kembali memfokuskan pencarianku kepada sosok Tante Luna, aku menyisiri tepi-tepi gedung. Makanan “ala kadarnya” tersedia dibeberapa meja mungil yang diletakkan di pojok. Ala kadarnya, bukan dalam arti sesungguhnya. Kue-kue dan minuman ini jelas mewah, hanya saja penjaga meja mengatakan “Silahkan, dicicipi ala kadarnya.” Mungkin “ala kadarnya” adalah perihal jumlah. Jika mengambil berlebihan, itu tidak disebut ala kadarnya lagi.

Beberapa kerumunan orang mengalihkan perhatianku. Aku mendekat, siapatahu Tante Luna kudapati disana.

“Rein?”, dia tersenyum padaku. Seorang laki-laki, disusul Tante Luna dibelakangnya.

 “Oom—”, aku ingat. Ini papanya Bara, hanya saja dia belum pernah menyebutkan nama..

“Gusto,” Tante Luna melanjutkan kalimatku. Oke, Oom Gusto. Super rapi, dengan rambut yang ditata rapi memberikan kesan lebih muda daripada tampilannya di rumah sakit tempo hari. Ia berseri, muramnya sedikit tergeser dengan famili dan kerabat yang satu persatu datang. Begitu juga dengan Tante Luna.

“Apa kabar?”, Tante Luna menyalamiku, lalu disusul Oom Gusto. “Baik Tante. Oom tante sehat-sehat?”

Mereka mengangguk nyaris bersamaan.

Gimana kerjaan, baik?”, tanya Oom Gusto. “Masih diminta tolong buka ampul Epinephrine?”

Aku tersenyum saja. Teringat hari itu lagi.

“Sebentar ya, Rein,” Tante Luna berpamitan setelah menyapa salah satu tamu yang baru datang.

Tante Luna pergi, menyisakan aku dan Oom Gusto.

“Ada yang Oom mau kenalkan padamu, Rein,” Oom Gusto tersenyum ringan.

“Joy!”, Oom Gusto melambaikan tangan. “Ini dia,” katanya kemudian.

Joy? Sebentar. Siapa lagi ini?

“Hai, Oom,” seorang wanita tomboy menghampiri dan menyalami kami. Oom Gusto memperkenalkanku pada Joy.

“Hai, Rein,” Joy tersenyum. Gigi gingsul mencuat satu di sisi sebelah kiri. Rambut cepak miliknya gagal menyamarkan identitas Joy. Senyumnya "wanita" banget.

Aku refleks meneliti penampilan Joy yang unik. Celana jeans, boots hitam, dan hem hitam tanpa corak apapun. Tetap sopan dimataku, meskipun beberapa orang melirik penampilan koboinya beberapa menit sekali.

Oom Gusto menepuk pundak Joy. “Joy baru saja mengikuti pelatihan wound care di Brisbane. Katanya nanti kamu juga mau buka praktek wound care sendiri, Rein?”

Nanti, entah kapan, aku tersenyum. “Brisbane? Keren,” hanya itu komentarku, disusul senyum Joy. “Rencana mau buka praktek wound care dimana?”

“Deket rumah. Itu juga entah kapan,” jawabku.

“Enggak apa-apa, lagi. Jangan takut buat bermimpi,” sorot matanya tajam menatap mataku. Irisnya berwarna cokelat terang.

Wanita ini berkarismatik.

“Oom tinggal dulu, ya?” kata Oom Gusto. Memang ramai, dan tamu harus disambut.

Joy langsung mengangguk, kemudian seperti meminta persetujuanku. Aku ikut mengangguk saja.

Setelah Oom Gusto berlalu, tinggalah aku dan Joy. Joy mengajakku untuk mencicipi beberapa kue-kue coklat. “Tante Luna pintar masak kue,” jelas Joy. “Kalau ada acara keluarga, aku dan Bara menjadi tester untuk kue-kue buatan Tante Luna. Ujungnya bukan tester, tetapi kami yang menghabiskannya,” kenang Joy, seraya mencomot sebuah kismis. Aku jadi membayangkan, bagaimana Joy dan Bara menjadi partner in crime stealing this damn lovely cakes. Aku tersenyum sendiri.

“Bara paling suka kue piring itu,” Joy menunjuk sebuah kue berwarna hijau—lebar seperti lempengan UFO—dengan gula merah di tengahnya. “Dia bisa habiskan sepuluh sekali makan,” Joy menggeleng.

Aku tertawa kecil, sambil ikut-ikutan mengambil kue dengan kismis.

“Kamu udah lama kenal Bara?”

“Dari pertama masuk kuliah. Om Gusto kadang mengajar di kampusku. He is inspiring me. Aku sering main ke rumah dan kenal sama Bara. Lalu dekat.”

"Benar-benar dekat?”, tanyaku lagi.

Joy menaikkan alisnya, “What do you want to know?”, tanyanya menyelidiki.

Dia sudah tahu ke arah mana pertanyaanku.

“Oom Gusto punya spot yang cozy disini. Come on,” Ia berjalan selangkah didepanku.

Aku jelas oke. Joy adalah sebuah berkas penting. Dengan bersemangat aku mengikutinya melewati kerumunan orang banyak, menuju belakang pavilliun.

Selintas, kulihat laki-laki bertahi lalat yang tadi menanyai kartu undanganku, menoleh kepadaku dan Joy, diantara kesibukannya membagikan souvenir.

 

¼

 

Beberapa lilin berbatang merah terlihat bergerak-gerak dipermainkan air. Cahaya dari lilin-lilin itu berpendar-pendar, sehingga aku bisa melihat sedikitnya pantulanku dari permukaan air. Dua buah kursi santai terpajang di sisi kolam itu, lengkap dengan dua buah kain tipis di atas meja. Rumput jepang tak ubahnya terasa lembut di telapak kakiku. Aku memutuskan untuk bertelanjang kaki saja, lagipula sepatu runcingku sudah membuat tumitku sedikit lecet. Joy tertawa melihatku menenteng-nenteng sepatu. Dia berkata mungkin dia bisa membawakan sepatuku. Aku menolaknya sopan. Baru kutemukan wanita macam ini.

Kalau Vita atau Tari, pasti aku yang disuruhnya membawa barang-barang mereka, terutama tiap kali berbelanja. Tari jarang, sih. Vita yang suka kebiasaan.

“Apa yang kamu tahu tentang dia?”, Joy duduk di salah satu kursi. Aku lantas duduk di kursi lainnya. “Tentang ketertarikannya sama sesama jenis?”

Oh exactly, She knows.

“Bara gay?”, tanyaku, memulai sandiwara.

Joy tersenyum. “Kayak yang kamu tahu,” dia menatap langit.

Ah, sial.

“Pacar Bara datang kesini?”

Joy menggeleng. “Yang benar saja. Oom Gusto dan Tante Luna tidak tahu siapa pacar Bara.”

Aku mengangguk. Pernyataan Joy tadi semakin memperkuat dugaanku kalau Tante Luna dan Oom Gusto memang tidak tahu tentang orientasi seksual putra mereka sendiri. Sampai saat meninggalnya.

“So, how’s about you? Sudah ada pacar?”, Joy menyilangkan kakinya. Boots nya hampir menyentuh ujung kakiku sangkin dekatnya kami. Poni pendeknya ber-whuss-whuss dipermainkan angin.

Aku menggeleng. “Belum ada yang klik.”

“Belum ada yang klik?”, tanyanya, mengulang pertanyaanku.

Aku mengibaskan tanganku. “Belum ada yang cocok.”

“Tapi lagi ada seorang laki-laki yang menarik buatmu, kan?”, tanyanya.

Aku harus berpikir untuk menemukan jawabannya. Selama ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku dan homecare, kemudian Papa, Bara, rutinitas IGD..

Kapan aku terakhir mengagumi seorang laki-laki, ya?

Lihat selengkapnya