1/4

Sancka Stella
Chapter #7

#CIKALONG WETAN

Aku memutuskan untuk pergi.

Tentang pengobatan Geris, aku merasa Echo memerlukan bantuan finansial, walaupun jelas ia pasti tak ingin memberatkanku. Ayahnya sudah meninggal sejak Ia kecil, dan uang ibunya jelas sudah menipis karena menyekolahkan anak di jurusan kedokteran tidaklah murah, meskipun Echo mendapat beasiswa paruh. Jadi, aku memang memerlukan uang lebih banyak.

Lagipula, perasaanku saat ini betulan campur aduk. Bara membuat aku marah besar sekaligus mengasihani Jack. Aku merasa perlu mencari insight lain tentang risetku selain Jack dan Joy, dan mungkin Cikalong Wetan adalah jawabannya.

Alasan ketiga adalah yang paling menguatkanku. List fasilitas yang Pak Seno berikan padaku tempo hari berhasil membujuk papa untuk mengamini keputusanku.

Keberangkatanku sebentar lagi. Tiap lima detik sekali, aku melihat arloji. Echo belum datang. Aku—yang beberapa jam lalu masih yakin kalau Echo akan datang—kini meragukan pernyataan itu.

Beringsut, aku mendekati mama dan papa.

“Jaga kesehatan. Jangan lupa pakai jaket kalau tidur,” papa mengusap rambutku. Aku merasakan lengan yang sama dengan yang selalu mengusap rambutku sewaktu aku masih kecil. Jemari yang sama. Kelembutan yang sama.

 

Mama memelukku setelah itu,

“Kabari kalau sudah sampai penginapan! Jangan telat makan, minum susu sebelum tidur. Jangan malas gosok gigi! Itu mama udah selipin celana dalem diantara tumpukan buku novel-novelmu, baru mama beli, anti angin! Pake, ya, Rein! Pokoknya mama tunggu kabarnya, jangan..”, dan omelan mama. Aku akan sangat merindukannya. Aku mengangguk saja, membayangkan seperti apa bentuk celana dalam anti angin itu.

Mama masih mengomel ketika suara dari pak Lo—salah satu driver  mobil antar jemput rumah sakit kami—memberitahukan bahwa kami akan segera berangkat. Papa mengangkat tasku, mama membawakan boneka monyetku.

Aku menengok ke belakang, memastikan sekali lagi bahwa Echo memang tidak datang.

“..ripik yang mama bikin jangan lupa dimakan! Ada susu coklat cair juga di kotak makanan. Kenapa mama enggak bawain yang bubuk? Karena kamu sih, suka makan susu bubuk gak pake air! Jadi mama bawain yang cair aja, jangan kentel-kentel, nanti kemanisan. Mama enggak mau kamu pulang-pulang terus diabet—”

“Rein ngerti, ma. Aye, captain! Aye!”, aku memeluk mamaku yang super bawel ini. Mama tersenyum. “Baik-baik, kamu, Rein. Jangan lupa kabar-kabari,” mama mengulang kalimat yang sama untuk kesekian kalinya. Papa memelukku. Aku balas memeluk lebih erat.

Papa diam. Biasanya setelah sampai di rumah, mama akan memberi laporan kepadaku diam-diam, bahwa papa menangis karena rindu.

Tapi papa tidak pernah menangis didepanku, sungguh.

Wajahnya masih datar-datar saja, ketika kulihat dia, sebelum menutup pintu mobil.

 

¼

 

Sepanjang jalan menjauh dari rumah menuju Cikalong Wetan, aku selalu melihat spion. Masih berasumsi bahwa Echo akan mengejarku dengan motornya seperti di film-film drama. Dua jam adalah jarak tempuh yang biasa saja, tetapi satu setengah tahun adalah waktu yang lama untukku berjarak dengan Echo. Echo harusnya tahu berat juga untukku ketika harus melewatkan hari-hariku tanpanya. Seharusnya Ia paham betul dan tidak perlu semarah itu.


Nihil.

Asaku yang masih kusimpan beberapa persen ketika berangkat, menjadi sirna setelah aku sudah benar-benar menjauh dari Bandung Kota. Aku menyerah.

Aku merasakan beberapa nyamuk menghisap darahku di pipi dan di dekat mata kaki, ketika aku sampai di Cikalong Wetan.

Beberapa orang berseragam sama menghampiriku begitu aku sampai di gerbang depan. Mereka menyalamiku dan mengucapkan selamat datang. “Semoga betah, ya,” dengan singkat, mereka berucap demikian. Aku mengangguk sopan. Melihat sekeliling, aku tertarik kepada pohon-pohon yang masih menjulang tinggi dan sarang burung yang besar seolah menandai daerah kekuasaan mereka di atas sana.

Pak Lo mengantarkanku ke sebuah rumah dengan halaman yang luas. Sangat luas, kalau boleh kubilang. Di Bandung Kota, tak ada orang yang mempunyai halaman seluas ini, setidaknya yang aku tahu. Aku sempat berpikir apakah aku harus masuk dan berjalan kaki ke dalam, tetapi Pak Lo membawaku sampai teras.

“Rein, ya?”, seorang wanita paruh baya menyebutkan namaku, begitu aku turun dari mobil. Aku mengangguk dan tersenyum. Paras wanita ini ramah sekali, dan sejuk dipandang.

Aku menyalaminya.

“Warsini,” katanya, menyebutkan namanya.

“Asli sini, bu?”

“Dari Majalengka, ibu mah,” Bu Warsini menjawab. “Disini bantu-bantu suami bersih-bersih, siapin makanan, dan sebagainya,” jelas Bu Warsini. “Kerjaan ibu mah banyak. Untung anak-anak suka ngebantuin,” jelasnya lagi.

Anak-anak?

“Yuk, ibu bantuin,” Bu Warsini membawa salah satu tasku. Pak Lo masih menurunkan barang-barang bawaanku yang lain dari jeep. Sebaiknya aku nyicil ngangkut ke dalam juga.

“Ini satu kamar satu orang, bu?” tanyaku. Bu Warsini mengangguk. “Tapi kadang-kadang suka kumpul di satu kamar sih, neng. Nyeremin, katanya. Padahal mah, ah, da enggak ada apa-apa,” jawabnya. Bangunan tua, jelas sekali. Atap yang membumbung terlalu tinggi dan beberapa lemari besar ikut memperjelas kesan pertama. Jelas ini bukan lemari yang baru dibeli kemarin sore sebagai pelengkap furniture mess.

“Dulunya, tempat apa ini, bu?”, rasa penasaranku mempunyai persenan lebih besar daripada rasa takutku. Ibu Warsini menoleh padaku sekilas, “Dari dulu sampai sekarang ini mess untuk perawat, Neng,” Wanita itu membuka salah satu kamar. Nyaris kosong. Hanya satu tempat tidur yang membuat kamar ini mempunyai judul berisi. Selebihnya cat putih dan jendela dua sisi, berhadapan dengan pintu. Tempat tidur ditempatkan di sisi sebelah kiri.

Aku menahan napas. Mungkin fasilitas yang Pak Seno tuliskan tempo hari: meja, kursi, lemari baju, baru akan mereka tambahkan setelah kamar ini berpenghuni. Semoga aku tak salah memutuskan untuk bekerja disini selama satu setengah tahun. Ralat, sepertinya satu tahun tiga bulan. Aku pastikan diskon dua bulan akan aku ambil tanpa berpikir panjang.


Sejurus kemudian, pak Lo berpamitan kepada kami sebelum ia pulang. "Yang kerasan, ya, Neng Suster. Tapi IGD jadi sepi kalau Neng Suster enggak ada."

Aku tersenyum. "Nanti Rein ke RS lagi, Pak Lo, kalau tugas disini sudah selesai."

Ia membunyikan klakson dan aku melambaikan tangan.

Neng capek, sepertinya,” Bu Warsini melihat wajahku. “Mau istirahat dulu? Nanti ibu bikinkan es teh, ya?”

“Yang lain kemana, bu?”, tanyaku sebelum Bu Warsini meninggalkanku seorang diri.

“Kan masih pada kerja, neng,” Bu Warsini tertawa kecil. “Kenapa?”

Aku menggeleng. “Saya mau menemani ibu saja, di depan,” ujarku tanpa ragu. Membereskan barang-barang bisa nanti saja. Sungguh, saat ini hal yang paling kurindukan adalah menghirup oksigen langsung dari pohon di luar sana. Wangi bangunan tua masih terasa asing.

“Baik, kalau begitu,” ujar Bu Warsini. “Leres, henteu istirahat heula?1

Aku menggeleng.

Bahagia rasanya menikmati angin Cikalong Wetan siang-siang begini. Lumayan sejuk. Tapi matahari disini cukup terik. Kuramal kulitku akan sedikit menghitam disini. Tetapi sungguh, itu tidak menjadi masalah untukku.

Setelah beberapa menit membantu Ibu Warsini menyapu, aku duduk sejenak.

Menenggak teh manis buatan Bu Warsini, dengan es yang sudah mulai mencair. Segar rasanya, melihat pemandangan sekitar dengan banyak pepohonan. Tidak ada suara knalpot motor, tidak ada suara klakson mobil seperti yang sering kudengar di Bandung Kota. Desa ini menenangkan.

Aku melangkah lagi, kembali menyapu sisa-sisa daun yang berguguran dan memasukkannya ke dalam sebuah sekop yang terbuat dari anyaman bambu.

“Ibu kedalam sebentar, ya, mau memasak air. Sebentar lagi anak-anak pulang,” Bu Warsini tersenyum dan berlalu. Anak-anak lagi.

Aku sendiri lagi. Tak apa, selama masih berada diluar mess, aku tak pernah merasa benar-benar sendiri.


Ada jalan setapak di ujung halaman, tidak berpagar. Jalan ini tertutup rerumputan, dikelilingi pohon-pohon. Bu Warsini belum membersihkan bagian ini, dan hanya jalan ini yang belum ia bersihkan.

Belum merasa capek, aku meneruskan untuk menyapu jalan itu sebisaku, karena sangat banyak daun yang menumpuk. Jangan-jangan orang-orang tidak tahu kalau disini ada jalan setapak?

Pohon-pohon rindang dan sinar mentari sore yang menyembul dari antaranya menyapaku dengan hangat. Pasti menyegarkan rasanya bisa jalan-jalan disini sore hari. Teman-teman baruku nanti selfie addict tidak, ya? Apa seperti Tari atau Vita?

Beberapa sudut disini seperti sebuah foto booth alami, rasanya. Pojok ketje, kalau aku boleh meminjam bahasa si kekinian Vita. Aku seperti terbawa untuk masuk lebih dalam lagi.

Entah kenapa aku jadi mengendap-endap, seolah sedang ada kurcaci atau peri hutan tidur di dalam sana. Dengan hati-hati aku menginjakkan kaki di atas daun kering yang belum sempat aku bersihkan. Sial, suaranya masih berisik.

Sebuah sisa pembakaran kutemukan tidak jauh dari situ. Bekas api dari kayu-kayu yang sudah menghitam masih mengeluarkan asap yang membumbung sebelum lamat-lamat hilang di udara. Ada yang baru saja memakai pembakaran ini, mungkin untuk memasak sesuatu, pikirku. Kalau untuk menghangatkan tubuh kayaknya enggak mungkin. Suhu disini masih lumayan hangat, walaupun lebih sejuk jika dibandingkan dengan Bandung Kota.

Agak nekat, aku mendekat.

Lihat selengkapnya